
Disbudpar Kota Batam – Finalis Duta Wisata Encik dan Puan Kota Batam 2026 menjalankan tugas perdana mereka dengan memperagakan ragam busana adat Melayu dalam Rapat Paripurna DPRD Kota Batam yang digelar di Ruang Sidang Utama DPRD Kota Batam, Jumat (8/5/2026).
Penampilan tersebut menjadi bagian dari rangkaian pengesahan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepulauan Riau Kota Batam menjadi Peraturan Daerah (Perda), sekaligus sebagai bentuk pelestarian dan promosi budaya Melayu kepada masyarakat luas.
Dalam peragaan tersebut, para finalis tampil membawakan berbagai jenis busana tradisional Melayu yang sarat nilai budaya dan filosofi. Mulai dari baju pengantin Melayu lengkap dengan aksesoris tradisional dan sanggul lintang, baju harian Telok Belanga, baju kurung cekak musang, kebaya labuh, hingga baju kurung harian khas Melayu Batam.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata, mengatakan keterlibatan finalis Duta Wisata dalam agenda resmi DPRD ini menjadi bagian dari pembinaan generasi muda agar lebih memahami sekaligus mencintai budaya daerah.
“Ini menjadi tugas pertama bagi finalis Duta Wisata Encik dan Puan Batam 2026 untuk tampil langsung di ruang paripurna memperagakan pakaian adat Melayu. Kami ingin mereka tidak hanya menjadi duta pariwisata, tetapi juga menjadi representasi generasi muda yang mampu menjaga dan mempromosikan budaya Melayu,” ujarnya.
Menurutnya, penggunaan pakaian adat Melayu di Kota Batam juga telah memiliki landasan hukum melalui Peraturan Daerah Kota Batam Nomor 1 Tahun 2018 tentang Kemajuan Kebudayaan Melayu serta Peraturan Wali Kota Batam Nomor 193 Tahun 2022 tentang Penggunaan Pakaian Adat Melayu di Kota Batam.
Ardiwinata berharap kegiatan tersebut dapat memperkenalkan lebih luas ragam busana Melayu sebagai bagian dari identitas budaya daerah yang harus terus dilestarikan.
“Melalui kegiatan ini masyarakat dapat melihat kekayaan busana Melayu yang menjadi identitas budaya Batam dan Kepulauan Riau. Harapannya, budaya berbusana Melayu tidak hanya hadir dalam acara seremonial, tetapi juga tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari,” tambahnya.
Suasana rapat paripurna pun terlihat semakin semarak dengan nuansa budaya Melayu yang elegan dan penuh makna. Penampilan para finalis menjadi simbol bahwa pelestarian budaya dapat berjalan selaras dengan perkembangan Kota Batam sebagai kota modern, industri, dan multikultural.