Pameran dan Parade Pembatik Awali Bajafash 2019

Disbudpar – Pameran dan parade pembatik beserta karya-karyanya mengawali dimulainya kegiatan Batam Jazz & Fashion (Bajafash) 2019, Jumat (13/9).

Suara tabuhan genderang menandai dibukanya kegiatan yang digelar selama tiga hari sejak 13 hingga 15 September di Radisson Golf & Convention Centre, Batam, Kepri.

Sesi musik jazz malam pertama dari tiga hari pagelaran ini dibuka dengan tradisional dance, dan disambung dengan menampilkan beberapa penyanyi jazz kenamaan.

Diiringi lantunan musik jazz yang sambung-menyambung, karya-karya desainer Itang Yunasz ditampilkan di atas panggung oleh 13 model.

Dalam kesempatan selanjutnya, penyanyi Malaysia, Yuka Karisma tampil membawakan enam lagu diiringi dengan gelaran fashion karya Awang Kagunan dengan ecoprintnya dan Ika Melina dengan desain fashion yang menawan.

Marion Jola tampil dengan enerjik membawakan tidak kurang dari dua belas lagu yang diikuti oleh lantunan suara para penggemarnya yang sejak sore hari sudah memadati lobby bawah hotel ini.

Lagu-lagu yang dibawakan Marion Jola mengiringi tampilnya karya-karya desainer Dana Dutiyatna yang dibawakan oleh beberapa orang model.

Idang Rasidi, sang legendaris musik jazz Indonesia menutup penampilan keseluruhan pagelaran Bajafash 2019 di hari pertama ini.

Disela penyelenggaraan Bajafash 2019 ini, Dina Putri Fadjar selaku prinsipal Bajafash menyisipkan kesempatan untuk workshop membatik dan workshop ecoprint by kagunan, bagi pengunjung Bajafash 2019.

Sedangkan untuk Fashion, Bajafash melibatkan banyak Fashion Desaigner Nasional, seperti Chossy Latu, Itang Yunasz, Dana Duriyatna, Awang Kagunan, Didit Jarit, Wieke Dwiharti. Ada juga Fashion Desainer lokal Batam yang memeriahkan stand Fashion.

Kadisparbud Batam, Ardiwinata sumringah menyaksikan berjalannya event ini.

“Semuanya penampilannya keren malam ini. Musik, panggung dan lighting juga oke. Semua wisatawan yang menyaksikan terlihat puas dan antusias. Event-event musik adalah salah satu atraksi yang banyak mendatangkan wisatawan, terutama wisman,” beber Kadis yang akrab dipanggil dengan nama kecil Ardi ini.

“Keunikan Bajafash yang sangat kental pada pagelarannya kali ini adalah Batik Kepri. Motif khas dan warnanya yang memikat menjadikan Batik Kepri ini sangat layak untuk dieklporasi atau sekedar dikoleksi. Bagi kolektor batik, ajang Bajafash ini merupakan kesempatan yang langka dan sangat berharga untuk mengumpulkan berbagai macam corak Batik Kepri guna menambah kolesi mereka,” ujar Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional I Kemenpar Dessy Ruhati.

“Motif-motif Batik Kepri sangat menawan. Sebut saja motif gonggong dan marlin yang merupakan batik khas Batam. Variasinya rata-rata mencirikan khas Melayu Kepri,” katanya.

“Bajafash 2019 sangat spesial. Penyelenggaraan tahun ini lebih unik lagi dengan kehadiran Batik Batam. Karya-karya desainer nasional dan lokal menambah meriah dan semaraknya event musik ini. Atraksi musik bertaraf internasional ini harus lebih sering lagi digelar di Batam. Posisinya yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia membuat Batam sangat strategis untuk mendulang kunjungan wisman dari negara tetanhga tersebut,” tutup Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya yang juga Menpar Terbaik ASEAN.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll Up