
Disbudpar Kota Batam – Potensi pariwisata Kota Batam terus berkembang seiring munculnya berbagai layanan yang mendukung kebutuhan wisatawan. Salah satu yang mulai mendapat perhatian adalah sektor wellness tourism, mulai dari spa, massage, refleksi, lulur hingga aktivitas kebugaran.
Pemerintah Kota Batam melihat sektor tersebut memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai bagian dari pengalaman wisata, terutama dalam menarik wisatawan mancanegara dari Singapura dan Malaysia.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata, mengatakan berdasarkan pendataan yang dimiliki pihaknya, terdapat sekitar 350 usaha spa dan layanan sejenis yang tersebar di berbagai kawasan Batam. Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah karena belum seluruh pelaku usaha tercatat dalam asosiasi.
“Kalau pendataan, ada asosiasi namanya ASPI (Asosiasi Spa Terapis Indonesia) di Batam. Tapi memang tidak semuanya masuk ke sana. Kalau di data saya ini terus berkembang, hampir ada 350-an lebih. Ini tersebar di beberapa tempat dan sangat potensial sekali,” ujar Ardiwinata, Minggu (16/8/2026).
Menurutnya, keberadaan usaha wellness sejalan dengan kebutuhan wisatawan yang berkunjung ke Batam. Selain berbelanja dan menikmati kuliner, wisatawan juga mencari kegiatan untuk relaksasi dan menjaga kebugaran selama berada di daerah tujuan wisata.
“Karena salah satu wisatawan datang ke Batam itu mereka mau massage, mau refleksi, mungkin lulur dan sebagainya. Itu pokoknya wellness,” katanya.
Potensi tersebut semakin terbuka karena Batam juga memiliki pasar wisata MICE yang cukup berkembang. Wisatawan yang datang untuk menghadiri rapat, pameran, konferensi maupun kegiatan bisnis memiliki waktu luang yang dapat diisi dengan berbagai aktivitas wisata.
Ardiwinata mengatakan aktivitas setelah agenda utama atau after meeting menjadi bagian yang penting dalam pengembangan destinasi MICE. Wisatawan dapat memanfaatkan waktu tersebut untuk berbelanja, mencicipi kuliner, menikmati hiburan hingga memperoleh layanan wellness.
“Destinasi wisata MICE itu after meeting-nya juga penting. Setelah rapat, setelah ekspo, setelah mereka berdiskusi, berdebat dan sebagainya, ada free time. Mereka ke mana? Ada shopping, makan, dan salah satunya adalah wellness,” jelasnya.
Ia menjelaskan, keberadaan fasilitas wellness juga berkaitan dengan unsur amenitas dalam sebuah destinasi wisata. Menurutnya, pengembangan kota wisata membutuhkan tiga komponen utama, yakni aksesibilitas, amenitas dan atraksi.
“Kalau kita bicara syarat kota pariwisata itu ada tiga, akses dulu, kemudian amenities, baru atraksinya. Kalau kita konsen kepada amenities, seperti shopping mall, hotel, restoran, tempat hiburan, klinik kecantikan, spa dan massage, ini namanya amenities,” ujarnya.
Menariknya, perkembangan usaha wellness di Batam mulai menjangkau pasar wisatawan dari luar negeri. Ardiwinata menyebut terdapat pelaku usaha yang konsumennya berasal dari Malaysia dan Singapura. Bahkan, pelaku usaha tersebut telah memiliki cabang di Pulau Pinang, Malaysia.
“Customer beliau bukan hanya lokal, tetapi juga wisatawan mancanegara, khususnya Malaysia dan Singapura. Mereka juga sudah punya cabang di Pulau Pinang, Malaysia, ada dua lagi,” ungkapnya.
Kondisi tersebut dinilai menunjukkan bahwa layanan wellness memiliki pasar yang cukup luas dan dapat dikembangkan menjadi bagian dari produk wisata Batam.
Ardiwinata berharap pertumbuhan usaha wellness di Batam diikuti dengan peningkatan kualitas layanan. Dengan begitu, wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati destinasi utama, tetapi juga memiliki lebih banyak pilihan aktivitas selama berada di Batam.
“Ini tentunya sebagai salah satu upaya mendorong destinasi wisata wellness di Batam yang lebih terkonsentrasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, wisata wellness tidak sebatas layanan spa dan massage. Konsep tersebut memiliki cakupan yang lebih luas, termasuk kebugaran, kesehatan, yoga, aromaterapi, jamu, pemanfaatan rempah-rempah serta berbagai aktivitas olahraga.
“Apa itu wisata wellness? Dari mulai kebugaran, kemudian kesehatan, termasuk juga yoga, itu wellness semua. Ada aroma-aroma terapi, jamu, rempah-rempah, bagaimana merawat kesehatan dan sebagainya. Termasuk olahraga,” jelasnya.
Dengan posisi geografis Batam yang berdekatan dengan Singapura dan Malaysia, ditambah dukungan hotel, pusat perbelanjaan, restoran serta fasilitas MICE, pengembangan wisata wellness dinilai memiliki prospek yang cukup besar.
Pemko Batam pun melihat sektor tersebut dapat menjadi salah satu diversifikasi produk pariwisata untuk memperkuat daya saing Batam di pasar regional.