
Disbudpar Kota Batam – Para finalis Pemilihan Duta Wisata Encik & Puan Kota Batam 2026 mendapatkan pembekalan khusus mengenai sejarah, adat istiadat, dan nilai-nilai budaya Melayu dalam rangkaian karantina yang berlangsung di Ayola Signature Ocarina Batam, Rabu (06/05/2026).
Materi budaya tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Umum Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri Kota Batam, YM. H. Raja Muhammad Amin. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa seorang duta wisata tidak hanya dituntut memiliki penampilan menarik, tetapi juga harus memahami identitas budaya daerah yang diwakilinya.
“Budaya Melayu adalah jati diri negeri ini. Sebagai calon duta wisata, adik-adik harus memahami sejarah, adat, dan nilai budaya Melayu sebagai dasar dalam membawa nama baik daerah,” ujarnya.
Dalam sesi pembekalan, para finalis diberikan pemahaman mengenai sejarah perkembangan Melayu di Kepulauan Riau, perjalanan Kesultanan Melayu Riau-Lingga, hingga peran Lembaga Adat Melayu dalam menjaga marwah budaya di tengah masyarakat yang majemuk.
Selain itu, Raja Muhammad Amin juga memperkenalkan nilai-nilai dasar budaya Melayu seperti sopan santun, persaudaraan, keterbukaan, serta pentingnya menjaga marwah dan amanah dalam kehidupan sehari-hari.
“Tuah Melayu terletak pada marwahnya. Karena itu, generasi muda harus mampu menjaga etika, sikap, dan nama baik daerah di mana pun berada,” pesannya kepada para finalis.
Tidak hanya teori, para peserta juga dibekali pengetahuan mengenai pantun Melayu, tata cara adat perkawinan Melayu, pakaian tradisional Melayu Batam, hingga penggunaan tanjak sebagai bagian dari identitas budaya Melayu.
Suasana pembekalan berlangsung interaktif. Para finalis turut berdiskusi mengenai sejarah Batam, keberagaman budaya, serta pentingnya menjaga harmoni di tengah masyarakat multikultural.
Menurut Raja Muhammad Amin, Batam sebagai bandar dunia harus tetap menjadikan budaya Melayu sebagai payung negeri dan perekat kehidupan sosial masyarakat.
“Batam tumbuh dengan keberagaman. Karena itu, budaya Melayu harus menjadi landasan untuk menjaga persatuan, menghormati perbedaan, dan memperkuat keharmonisan masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata, mengatakan pembekalan budaya Melayu menjadi bagian penting dalam proses pembinaan finalis Duta Wisata Encik & Puan Kota Batam 2026.
“Kami ingin para finalis tidak hanya unggul secara penampilan dan komunikasi, tetapi juga memiliki pemahaman kuat tentang sejarah dan budaya Melayu sebagai identitas Kota Batam dan Kepulauan Riau,” ujarnya.
Ia berharap para finalis nantinya mampu menjadi generasi muda yang aktif mempromosikan pariwisata sekaligus melestarikan budaya daerah.
“Duta wisata harus mampu menjadi agen promosi budaya yang kreatif, berkarakter, dan mampu mengenalkan nilai-nilai Melayu kepada masyarakat luas, terutama generasi muda,” tambahnya.
Kegiatan karantina Duta Wisata Encik & Puan Kota Batam 2026 berlangsung selama tiga hari, mulai 6 hingga 8 Mei 2026, dengan menghadirkan berbagai narasumber dari unsur pemerintahan, akademisi, praktisi, hingga tokoh budaya sebagai pembekalan menuju malam grand final.