Batam Siapkan Pusat Seni Terpadu, Disbudpar Belajar Tata Kelola Taman Budaya Jakarta

Disbudpar Kota Batam – Pemerintah Kota Batam terus mematangkan rencana pembangunan taman budaya sebagai pusat aktivitas dan pengembangan seni budaya daerah. Fasilitas ini dirancang menjadi ruang bersama bagi seniman, budayawan, serta komunitas paguyuban yang tumbuh dan berkembang di Batam.

Sebagai bagian dari tahapan awal, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam melakukan kunjungan koordinasi sekaligus studi referensi ke Taman Ismail Marzuki (TIM) dan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Kunjungan ini difokuskan pada pembelajaran perencanaan fisik, sistem pengelolaan, hingga regulasi pendukung taman budaya.

Rombongan Disbudpar Batam dipimpin Kepala Bidang Kebudayaan Samson Rambah Pasir, didampingi Kepala Bidang Sarana dan Objek Wisata (SOW) Harry Budiman serta staf kebudayaan Raja Zulkarnain. Kehadiran mereka disambut langsung oleh pengelola TIM dan jajaran pengurus DKJ.

Menurut Samson, kunjungan tersebut memberikan banyak wawasan penting, terutama terkait penyusunan detail engineering design (DED) dan model tata kelola kawasan seni yang berkelanjutan. “Kami mendapatkan banyak referensi yang sangat aplikatif untuk diterapkan di Batam,” ujarnya.

Selain diskusi teknis, rombongan juga diajak meninjau langsung fasilitas seni di kompleks TIM, mulai dari gedung pertunjukan utama, teater besar dan kecil, hingga berbagai sarana penunjang kegiatan kesenian. Kompleks ini dikenal sebagai pusat kesenian modern yang telah menjadi rujukan nasional sejak pertama kali digagas pada masa Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin.

Harry Budiman menyampaikan apresiasi atas keterbukaan pengelola TIM dan DKJ dalam berbagi pengalaman. Ia secara khusus menyebut peran sejumlah pengurus DKJ yang memberikan penjelasan teknis serta data pendukung sebagai bahan pembelajaran bagi Batam.

Sementara itu, Kepala Disbudpar Kota Batam, Ardiwinata, menegaskan bahwa hasil kunjungan tersebut akan menjadi dasar penting dalam merumuskan konsep pembangunan taman budaya Batam. Ia menyebutkan bahwa pembangunan direncanakan mulai dilaksanakan tahun ini.

“Seluruh masukan, data, dan referensi dari Jakarta akan kami gunakan untuk memperkuat konsep taman budaya Batam, baik dari sisi desain, pengelolaan, maupun regulasi,” jelasnya.

Taman budaya tersebut direncanakan dibangun di kawasan bekas Gedung Beringin, dan menjadi salah satu program prioritas Wali Kota dan Wakil Wali Kota Batam. Keberadaan taman budaya ini diharapkan mampu menjadi pusat kegiatan seni yang berkelanjutan serta wadah ekspresi kreatif bagi para pelaku seni lokal.

Ardiwinata menambahkan, pembangunan taman budaya juga sejalan dengan skala prioritas pembangunan daerah, khususnya penguatan pusat seni budaya paguyuban. “Batam membutuhkan ruang representatif agar kreativitas seni dan budaya dapat tumbuh secara konsisten dan terarah,” tutupnya.